Nasionalis?

7:28 AM

"I despise people, in order to be different, or unique, or wtf they think they are, who "mocking" at their country &choose the opponent side."


Tweet dari salah satu teman saya di twitter, @saskiasyrf. Saya setuju 1000000000% dengan apa yang dia tulis. Ketika kemarin, 29 Desember 2010, TimNas Sepakbola Indonesia berjuang di laga final leg ke 2 melawan Malaysia, timeline saya ramai. Ramai membicarakan bagaimana jalannya pertandingan. Ramai-ramai berdoa untuk kemenangan Indonesia. Ramai-ramai mendukung negara ini untuk bisa menang dan mangangkat piala AFF untuk kali pertama. Apa yang terjadi kemudian? Di menit ke 54, Safee Sali, pemain Malaysia bernomor punggung 9 itu menjebol gawang kita. 1-0 untuk Malaysia. Dengan kekalahan 0-3 di Bukit Jalil kemarin, tipis harapan kita untuk dapat menang besar dengan sisa waktu kurang lebih 30 menit.

Timeline saya pun kembali ramai. Semua sedih. Dan memohon keajaiban. Agar Indonesia dapat membalikkan keadaan. Tiba-tiba muncul 1 tweet seperti ini : "Safee Sali hebat!!!". Dan itu berasal dari teman saya, sahabat saya sendiri yang notabene adalah orang Indonesia. Teman saya ini sudah mulai menyebalkan dari laga semifinal dimana Indonesia harus berhadapan dengan Filipina. Dia menulis status yang isinya mendukung pemain Filipina. Waktu itu saya fikir dia mendukung mereka karena memang terpesona dengan wajah2 tampan para pemain + pelatih filipina. Selain itu dia memang tidak begitu menyukai sepakbola. Tetapi ketika Indonesia kalah lawan Malaysia di leg pertama kemarin, ada tweet dia yang membuat saya sedikit sebel saat membacanya : "Sok sih.. Kalah kan! hahahahaha.." Saya sempat membahas hal ini dengan Ria, dan akhirnya memutuskan untuk tidak menegur / sekedar bertanya kepadanya. "Yaudahlah. biarin aja. Gw sindir aja lah. moga2 dia nyadar." Kenapa? karena saya pernah melihat reaksi nya sewaktu salah satu teman saya berkata -dengan maksud bercanda tentunya- bahwa dia pengkhianat karena tidak membela negaranya. Dia marah-marah. Dia bilang bagaimana kalau negara yang berkhianat ke rakyatnya. Sejak saat itu saya malas mengkonfrontasi langsung. Awalnya saya pikir, ini hanya Sepakbola. semua bebas berkata apa saja.

Tapi kemarin, kesabaran saya habis. Teman2 yang saya anggap dekat dengan saya, yang saya anggap sahabat saya, mereka mendukung Malaysia. Menulis status / tweet dengan tulisan "HIDUP MALAYSIA" disaat 11 pemain kita di lapangan berjuang mati-matian demi negeri ini, bukanlah hal yang lucu sama sekali. Mungkin memang maksudnya hanya bercanda atau sekedar menunjukkan rasa kecewa karena Indonesia tertinggal lebih dulu. Tapi ini tidak lucu, teman.

Kalian boleh bilang saya sok nasionalis atau apa terserah. Tapi untuk hal-hal seperti ini, dimana kita diberi kesempatan untuk bangga, dan bersatu sebagai sebuah Negara yaitu Indonesia, nasionalisme bagi saya harga mati. Teman bisa jadi lawan dan Musuh bisa jadi kawan.

Kemarin, Indonesia bersatu. Sepanjang jalan tidak ada tempat dimana TV yang terpasang bukanlah sepakbola. Semua menyaksikan bagaimana 11 pejuang garuda mati-matian berusaha menjebol gawang lawan. Mulai dari anak kecil sampai ibu-ibu berjilbab, semua mata ke arah TV. Gak peduli ras, agama, kasta, semua meneriakkan satu kata : “INDONESIA.”

Terus kalian dengan entengnya menulis ‘hidup Malaysia’ ketika semua rakyat tengah bersatu seperti ini? Sekarang siapa yang menjadi pengkhianat bangsa? Apa masih bisa kalian bilang Negara ini yang mengkhianati kalian? Negara yang mana? Negara tempat kalian cari uang? Negara tempat kalian tinggal? Negara tempat kalian dibesarkan? Negara yang kalian pakai bahasanya setiap hari? Negara mana? Sekarang coba pertanyaan nya dibalik. Apa yang sudah kalian lakukan untuk Negara ini? Saya ga berkata sebagai orang yang telah memberikan kontribusi banyak sama Negara ini. Saya tau saya belum jadi apa-apa. Belum jadi siapa-siapa yang bisa ‘merubah’ Negara ini. Tapi apakah sesusah itu memberikan dukungan kepada orang2 yang tengah berjuang demi membuka mata rakyat bahwa masih ada yang masih bisa kalian banggakan dari Negara ini?

Memang kalian punya hak untuk bicara. Tapi tolong hargai perasaan orang-orang yang baca. Kalian tinggal disini. Masih cari makan disini, Pacar kalian pun orang sini. Sesusah itu ya menghargai apa yang memang jati diri kalian? Kalau kalian untuk sekedar memberikan dukungan saja tidak bisa. Jati diri bangsa terlihat dari sikap dan perbuatan. Kalau kalian seperti ini, gimana Negara ini mau dilihat dunia?

Mungkin kalian bilang tulisan ini sampah,Sok nasionalis,Gak penting,Kebawa euphoria AFF, dll, dsb. Tapi ini uneg2 saya. Mungkin saya juga tidak menunjukkan apa-apa. Saya hanya jago ngomong saja, ga bisa kasih bukti. Tapi yang saya tau, saya bangga melihat pejuang Garuda kemarin. Mereka mati-matian. Gak menyerah sedetik pun sampai peluit akhir ditiup wasit. Nasuha & Ridwan membuktikan bahwa Khairul Fakhmi bisa ditaklukkan. Gol nya indah. Dari 7 pertandingan, kita hanya kalah sekali. Sayang, kekalahannya di momen krusial. We won the battle, but we lost the war. Garuda did fights back. Like a warrior (@pandji said). And we proud.

Suporter kita pun gak kalah bikin bangga. Mereka yang nonton di SUGBK harus lapang dada ngeliat Malaysia, Negara yang hampir selalu mengklaim semua milik kita, meraih gelar yang tinggal selangkah lagi kita rebut. Musuh abadi kita sendiri, merayakan kemenangan di stadion kebanggaan Indonesia, dan tidak ada satupun yang melempar petasan ke dalam lapangan. Tidak ada kerusuhan. Semua bangga dan menghargai para pejuang garuda. SALUT! We are better. J

Terima kasih, Riedl.

Terima Kasih, TimNas.

Kalian buat Indonesia bersatu kemarin malam. Dan ini merupakan kemenangan yang lebih berarti daripada sekedar piala. J

You Might Also Like

0 responses

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images